Program Desa Makmur Peduli Api Sinar Mas Berdampak Luas Bagi Masyarakat

KalbarOnline, Ketapang – Guna mencegah sekaligus mengatasi kebakaran hutan dan lahan, Sinar Mas Agribusiness and Food punya cara tersendiri.

Melalui Program Desa Makmur Peduli Api (DMPA) yang telah dilaksanakan sejak tahun 2016 silam dengan pemberdayaan masyarakat secara partisipatif.

Program tersebut bahkan banyak menorehkan catatan prestasi dan memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat.

Melalui program ini, masyarakat memiliki kemampuan dalam mencegah dan mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Tak hanya itu, masyarakat turut mencapai ketahanan pangan dengan cara yang lebih ramah lingkungan melalui Pertanian Ekologis Terpadu (PET) dan meninggalkan pola bertani dengan membakar.

“Program DMPA kami rancang dengan memahami kebutuhan masyarakat dari desa binaan kami. Tahap pertama fokus pada pencegahan dan mengatasi kebakaran. Tahap kedua, kami mencoba memberikan solusi dari akar permasalahan agar masyarakat mau dan bisa meninggalkan pola bertani dengan membakar melalui PET,” ujar CEO Sinar Mas Agribusiness and Food wilayah Kalimantan Barat, Susanto Yang.

“Saat ini, perusahaan telah melakukan pendampingan kepada 32 desa di Sumatera dan Kalimantan untuk program DMPA,” timpal Susanto Yang.

Melalui PET, lanjut dia, masyarakat akan tetap dapat bertani dan mendapatkan pangan yang dibutuhkan, bahkan mendapatkan produktifitas yang lebih baik dan pengeluaran yang lebih sedikit untuk mengelola pertanian.

Bersama dengan Masyarakat Siaga Api (MSA) dan pemerintah setempat, masyarakat desa diajak untuk melakukan proses belajar dengan praktik di lapangan – atau disebut juga sekolah lapanganan PET – dan kemudian mereplikasikan di kebun masing-masing.

Keberhasilan ini dapat terlihat dengan keluarga anggota kelompok PET yang mampu mendapatkan penghasilan Rp1 – Rp1,3 juta setiap bulannya.

Penghasilan tersebut dapat membantu masyarakat anggota kelompok PET untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari maupun membayar kebutuhan anak-anak sekolah.

Selain itu, tentunya indikator keberhasilan program DMPA yang telah berlangsung sejak tahun 2016, juga dapat diukur dengan penurunan titik panas di Kabupaten Ketapang.

“Pada tahun 2018, titik panas di Ketapang menurun sebesar 89,0 persen dibandingkan dengan tahun 2015, dimana terdapat 213 titik panas dan 130 titik api di desa binaan. Cuaca menjadi tantangan utama di tahun 2018, di mana curah hujan lebih sedikit dan musim kering lebih panjang dibandingkan tahun 2017,” rincinya.

Upaya dari desa-desa binaan di Ketapang untuk menjaga areanya agar tidak terbakar mendapatkan apresiasi dari perusahaan. Sejak tahun 2016, desa-desa yang berhasil mencegah terjadinya kebakaran lahan menerima penghargaan sebesar Rp50-100 juta dalam bentuk sarana dan prasarana pemadaman kebakaran dan fasilitas umum bagi desa.

“Di tahun 2018, sebanyak lima desa mendapatkan Rp100 juta dan tiga desa mendapatkan Rp50 juta,” jelasnya.

Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan (Distanakbun) Kabupaten Ketapang lantas menyambut baik dan merespon positif hasil yang telah dicapai masyarakat delapan desa di Kecamatan Nanga Tayap dalam upaya pencegahan kebakaran hutan dan lahan.

“Kami menyadari bahwa diperlukan sebuah kolaborasi yang menyentuh dari berbagai pemangku kepentingan agar program dapat berjalan dengan berkelanjutan. Oleh karena itu, peran serta elemen perusahaan, masyarakat dan pemerintah seperti Distanakbun, Manggala Agni, serta Muspika dan Lembaga Adat di Kecamatan Nanga Tayap sangatlah diperlukan. Distribusi informasi yang mampu mengedukasi masyarakat harus tetap berjalan baik melalui lembaga pendidikan formal dan informal,” tutur Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Perkebunan Ketapang, Ir. L. Sikat Gudag, M.Si.

“Saya berharap dengan melihat kisah sukses dari warga desa yang lain, program positif dari DMPA, dengan Pertanian Ekologis Terpadu akan dapat cepat diikuti oleh warga-warga lainnya,” timpalnya.

Kades Nanga Tayap, Hafid sangat mengapresiasi dan menuturkan terimakasih atas program yang telah diberikan oleh perusahaan.

Menurutnya sebelum program tersebut ada, warga lebih memilih membuka lahan dengan membakar. Tapi sekarang tidak lagi, lewat program yang telah diajarkan tersebut maka komitmen desa untuk menanam tanpa membakar.

“Harapan kami setelah ini mari tetap bersinergi untuk tetap bekerja sama,” ungkapnya.

Ketua Kelompok Tani Puspa Madani Desa Simpang Tiga Semblangaan, Maspupah mengatakan lewat program PET manfaatnya sangat terasa bagi mereka. Oleh karena PET memberikan pembelajaran dari tahap awal hingga panen.

“Kami bisa dapat pendidikan menanam mengolah tanpa membakar. Khususnya di kampung kami, kami lihat yang membakar bakar itu dulunya maka kebun kami ikut terbakar. Jadi kami anggap ini penting,” jelasnya.

Guru Mulok SMP Negeri 10 Nanga Tayap ini pembelajaran yang telah didapatkan tersebut juga diaktualisasikan ke dalam pembelajaran bagi pelajar pelajarnya.

“Manfaat lain yang bisa masyarakat kami terima adalah sekarang ini untuk sayuran tidak perlu lagi membeli. Semua sudah tersedia di lahan jika dulu tomat Rp 3 ribu saja harus beli keluar, nah sekarang kan tidak lagi,” ucapnya. (Adi LC)

Tinggalkan Komentar