Sutarmidji Optimis Pemilu 2019 Jadi Pesta Demokrasi Paling Indah

Gubernur Kalbar, Sutarmidji foto bersama jajaran Forkopimda dan seluruh peserta apel besar tiga pilar Bhabinkamtinmas, Babinsa dan Kepala Desa/Lurah se-Kalbar
Gubernur Kalbar, Sutarmidji foto bersama jajaran Forkopimda dan seluruh peserta apel besar tiga pilar Bhabinkamtinmas, Babinsa dan Kepala Desa/Lurah se-Kalbar (Foto: Polda Kalbar)

Hadiri apel besar tiga pilar Bhabinkamtinmas, Babinsa dan Kepala Desa/Lurah seluruh Provinsi Kalbar

KalbarOnline, Pontianak – Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji mengungkapkan optimismenya kepada seluruh jajaran TNI-Polda di Kalbar serta elemen perangkat desa dan lurah dapat mengamankan jalannya pemilu 2019 mendatang.

“Saya yakin Pemilu 2019 akan menjadi pesta demokrasi paling indah. Tidak ada selisih pendapat, tidak ada hal-hal yang dapat mencerai-beraikan, bila semua berjalan sesuai aturan,” ujarnya saat memberikan sambutan pada apel besar tiga pilar Bhabinkamtibmas, Babinsa dan Kepala Desa/Lurah seluruh Provinsi Kalbar di hotel Aston jalan Gajah Mada, Kamis (20/12/2018).

Sutarmidji pun mencontohkan pada Pilkada 2018 lalu yang menurutnya memiliki tingkat kerawanan yang paling tinggi namun bisa dilalui dengan baik dan aman.

“Tagline saya kala berkampanye itu adalah bila ada orang yang bicara jelek tentang saya, ‘senyumin aja’. Tak perlu diladen (dibalas), tak perlu ditanggapi yang berlebihan,” tukasnya.

Orang nomor satu di Bumi Tanjungpura ini juga mengatakan apabila seluruh calon bersaing dengan mengeluarkan program-program yang rasional, maka pemilu pasti akan berjalan dengan damai. Sementara itu, kata dia, sudah menjadi tugas Pemerintah untuk memberikan pendidikan politik agar masyarakat menjadi cerdas.

“Pemilu akan damai bila seluruh calon saling adu program terbaik mereka yang masuk akal. Pemerintah sendiri memiliki peran untuk mencerdaskan masyarakat tentang politik,” tukasnya lagi.

Gubernur yang akrab disapa Bang Midji ini juga mengatakan bahwa permasalahan pemilu yang paling sering terjadi adalah pada Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu). Dikatakannya, Panwaslu harus lebih cekatan.

“Berdasarkan pengalaman, terkadang permasalahan pemilu berasal dari Panwaslu. Hal-hal yang kecil menjadi masalah besar. Misalnya baliho hilang, itu harusnya biasa saja,” ucap dia.

Dicontohkan Midji, ketika momen Pilkada sebelumnya, terkadang beberapa baliho yang menampilkan wajah tiga kontestan ada yang hilang pada gambar salah satu pasangan calon.

“Misalnya ada baliho yang menampikan wajah tiga pasang calon, ternyata wajah saya dan Pak Norsan yang hilang. Kadang di lain waktu dan tempat, gambar wajah Bu Karolin dan Pak Gidot yang hilang, kemudian gambar wajah Pak Milton dan Pak Boyman. Biasa lah terjadi,” tuturnya.

Kampanye, menurutnya bukanlah segalanya dan hal ini perlu dijelaskan kepada setiap calon kontestan. Ia pun lantas kembali mencontohkan Pilkada yang lalu, masa kampanye adalah 130 hari dengan masa efektif 100 hari.

“Masa efektifnya 100 hari. Bila satu hari mengunjungi lima titik, maka dalam 100 hari tiap kontestan telah mengunjungi 500 titik. Untuk standar Kalbar, mengunjungi 500 titik dalam 100 hari efektif merupakan pekerjaan yang luar biasa,” ucapnya.

Menurutnya, jika setiap calon dapat memahami situasi, maka tidak akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam pemilu nanti.

“Jual program saja, tak perlu yang lain,” pungkasnya.

Kegiatan yang mengusung tema ‘mewujudkan pemilu yang aman, damai, elegan dan bermartabat di Provinsi Kalimantan Barat’ ini turut dihadiri Kapolda Kalbar, Wakapolda Kalbar, Kasdam XII/Tanjungpura, perwakilan Danlantamal XII Pontianak dan Danlanud Supadio serta jajaran pejabat Polda Kalbar dan Kodam XII/Tanjungpura.

Kemudian turut pula dihadiri Ketua KPU Kalbar dan Ketua Bawaslu Kalbar dan 522 peserta yang terdiri dari 227 Bhabinkamtibmas, 150 Babinsa dan 89 Kepala Desa atau Lurah, 13 Kasat Binmas jajaran Polda Kalbar, 28 PJU dan 15 Kanit Binmas Polresta. (Fai)

Tinggalkan Komentar

Loading...