Maknai Natal, Wabup Hermanus Ajak Umat Kristiani Jaga Toleransi di Tengah Kemajemukan

48
Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus memberikan sambutannya saat menghadiri Natal bersama di Gereja GPDI Sion, Desa Ampera Raya
Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus memberikan sambutannya saat menghadiri Natal bersama di Gereja GPDI Sion, Desa Ampera Raya (Foto: ian)

KalbarOnline, Kubu Raya – Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus mengajak masyarakat khususnya umat Kristiani di Kabupaten Kubu Raya untuk bergandeng tangan membangun kebersamaan. Menurutnya, dengan modal kebersamaan akan mempermudah upaya membangun negara dan bangsa menuju kesejahteraan yang lebih baik.

“Umat Kristiani harus mampu hidup berdampingan di tengah kebhinekaan masyarakat,” ujarnya saat menghadiri Natal bersama di Gereja GPDI Sion, Desa Ampera Raya, Kecamatan Sungai Ambawang, Senin (10/12/2018).

Hermanus mengatakan perbedaan pandangan dan cara menjalani kehidupan harus dipandang sebagai bagian dari fakta keberagaman di Indonesia. Dengan begitu, keharmonisan antar kelompok, agama, ras dan golongan dapat terjaga dengan baik. Ia menegaskan pentingnya menjaga toleransi di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

“Meski berbeda-beda, tetapi selalu bisa menghargai dan menghormati satu sama lain. Selalu merasa saling bersaudara. Terlebih dengan tema Natal yang diangkat yakni ‘Yesus Kristus Hikmat Bagi Kita’,” pesannya.

Hermanus pun meminta umat Kristiani untuk melaksanakan pesan Natal dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Natal yang dilaksanakan setiap tahun membawa pesan yang seharusnya diresapi. Untuk kemudian dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Sudah seharusnya pesan Natal dilaksanakan. Sehingga kita tidak hanya berdoa tetapi juga bekerja sehingga Tuhan akan memberikan balasan-Nya,” ucapnya.

Pada kesempatan itu Hermanus juga mengingatkan umat Kristiani akan bahaya hoaks atau berita bohong yang marak saat ini. Menurut dia, hoaks banyak tersebar melalui media sosial. Karena media sosial memang tidak bisa disaring. Sehingga siapapun bisa membuat berita atau informasi yang menyesatkan. Baik berupa tulisan, gambar, maupun video. “Karena itu jangan mudah percaya kepada informasi-informasi yang diterima sebelum mengecek terlebih dahulu kebenarannya. Termasuk juga terhadap isu-isu sensitif yang menyangkut SARA,” tukasnya mengimbau. (ian/rio)

Tinggalkan Komentar

Loading...