by

Geger Tani Dukung Gubernur Sutarmidji Kembalikan Kejayaan Beras Pemangkat

KalbarOnline, Pontianak – Wakil Ketua Generasi Penggerak Pertanian (Geger Tani) Kabupaten Sambas, Mulyadi, SP mendukung niatan Gubernur Kalbar, Sutarmidji untuk mengembalikan kejayaan beras Pemangkat, Kabupaten Sambas.

Namun, menurutnya banyak pekerjaan yang harus dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Kalbar dan Pemerintah Kabupaten Sambas.

Pemerintah Kabupaten Sambas, kata Mulyadi, harus segera berbenah, menangkap peluang baik yang dilontarkan Gubernur Sutarmidji mengenai hal ini.

Selain itu juga harus segera menginventarisir luas lahan potensial, serta hal-hal yang dapat mendukung untuk mengembalikan kejayaan beras Pemangkat bahkan terwujudnya industri beras di Kabupaten Sambas.

“Jadi, untuk mengembalikan kejayaan beras Pemangkat harus ada komitmen, kerja sama dan sinergisitas antara Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat. Harus ada tanggungjawab dari ketiganya. Artinya saling sinergi,” ujar Mulyadi, saat ditemui belum lama ini.

Mulyadi menyebutkan, Kabupaten Sambas memiliki kurang lebih 100 ribu hektar lahan potensial sawah. Tapi secara umum ada 6 kecamatan di Sambas memiliki hamparan padi yang cukup luas diantaranya Kecamatan Pemangkat, Semparuk, Salatiga, Selakau, Selakau Timur dan Tebas.

“Jadi 6 kecamatan ini memiliki lahan sawah yang cukup luas, 60 persen dari luas lahan sawah yang ada di Kabupaten Sambas terdapat di 6 kecamatan ini,” tuturnya.

Selain itu, menurutnya agar ada suatu kefokusan bagi pemerintah untuk mengembalikan kejayaan beras Pemangkat, pihaknya mendorong agar Kabupaten Sambas ditetapkan sebagai daerah lumbung pangan daerah.

“Sehingga ada kefokusan kita untuk mewujudkan mengembalikan kejayaan beras Pemangkat. Hal lain sebagai pendukung mewujudkan itu, tidak kalah penting yang menjadi salah satu syarat untuk kita berproduksi tanaman padi adalah sumber pengairan dengan sistem irigasi yang baik,” tukasnya.

“Karena pengolahan budidaya tanaman padi di Sambas selama ini hanya mengharapkan air hujan turun dari langit dengan musim tanam satu kali dalam setahun dengan hasil panen 3,3 ton/hektar. Kedepannya sudah harus direncanakan dan dikaji untuk membangun sistem irigasi yang baik dengan pembuatan bendungan ataupun pompanisasi di Sambas,” sambungnya.

Sebab, pihaknya menilai potensi sumber air di Sambas sangat besar. Diantaranya, kata dia, Sungai Sambas Besar, Sungai Sambas Kecil, Sungai Sebangkau dan Sungai Selakau. Sungai-sungai tersebut sangat berpotensi untuk dijadikan salah satu sumber air irigasi untuk sawah.

“Jadi, silahkan dikaji secara teknis diantara sungai itu, mana yang paling layak untuk dijadikan sebagai salah satu sumber pengairan irigasi untuk sawah-sawah disini. Bahkan apabila sumber air ini dikelola secara baik, tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk pertanian, tetapi juga sumber air bersih masyarakat, budidaya ikan dan udang, pembangkit listrik dan wisata air,” imbuhnya.

Pihaknya berharap Kabupaten Sambas kedepan tersedia sistem irigasi secara teknis sehingga dapat meningkatkan musim tanam yang sebelumnya hanya satu kali menjadi tiga kali dalam setahun. Dengan tersedianya air juga akan meningkatkan hasil panen dari 3,3 ton menjadi 6-7 ton/hektar, tentu juga akan meningkatkan gairah masyarakat bertani.

Mulyadi juga mengasumsikan misalnya 7 ton/hektar x tiga kali musim tanam = 21 ton/hektar x harga gabah Rp4.800 = Rp100.800.000 – 45.000.000 = 55.800.000/12bulan = 4.650.000/bulan penghasilan petani.

“Jika ini terlaksana, artinya Gubernur sudah mampu meningkatkan pendapatan petani,” ucapnya.

Syarat kedua untuk mewujudkan industri beras pemangkat adalah tersedianya benih unggul lokal. Tentu, kata dia, Pemerintah Provinsi Kalbar dan Pemerintah Kabupaten Sambas, kedepannya sudah harus merancang balai benih yang dibangun diantara enam kecamatan tersebut.

“Sehingga dengan adanya balai benih tentu kedepannya kita dapat mengembalikan benih-benih unggulan lokal yang memang asli dari kecamatan Pemangkat atau kabupaten Sambas. Sepert beras ketumbar, sirandah, ringka janggut dan ringka cundong serta ditemukannya varietas unggulan baru yang sesuai selera pasar saat ini,” tuakasnya.

Sedangkan balai benih khusus untuk Kalbar, Mulyadi berpendapat, idealnya harus ada sekurang-kurangnya empat balai benih. Sehingga, ketika musim tanam tiba, benih selalu tersedia bagi petani.

Syarat ketiga adalah bantuan pupuk bagi petani, teknologi, transportasi dan tersedianya pasar. “Kami yakin dengan kepemimpinan Gubernur baru, Bapak Sutarmidji mampu mengembalikan kejayaan beras Pemangkat serta memajukan pertanian Kalbar, yang tidak menutup kemungkinan dapat menjadikan Kalbar sebagai lumbung pangan nasional dan tak kalah penting dari sektor pertanian ini dapat menciptakan lapangan kerja serta meningkatkan pendapatan masyarakat,” pungkasnya. (Fat)

Comment

Terbaru