Sudah Saatnya Saprahan Miliki Standarisasi

Plt Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono saat menghadiri festival saprahan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Pontianak ke-247
Plt Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono saat menghadiri festival saprahan dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Pontianak ke-247 (Foto: jim)

30 Peserta Meriahkan Festival Saprahan

KalbarOnline, Pontianak – Sebanyak 30 kelompok peserta tampil menyajikan hidangan saprahan dalam Festival Saprahan yang digelar TP PKK Kota Pontianak di Pontianak Convention Center, Rabu (17/10/2018) lalu.

Seni menyajikan hidangan ini digelar dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kota Pontianak ke-247. Satu persatu peserta dengan memakai pakaian khas Melayu Pontianak, baju kurung, memasuki area yang sudah disiapkan panitia. Mereka membawa berbagai hidangan dan menatanya di atas lantai yang beralaskan kain.

Festival Saprahan dalam rangka melestarikan budaya khas Pontianak
Festival Saprahan dalam rangka melestarikan budaya khas Pontianak (Foto: jim)

Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono mengatakan, Festival Saprahan ini sudah selayaknya memiliki standarisasi, baik cara penyajiannya, penampilan penyaji saprahan, peralatan makannya, hingga makanan yang dihidangkan.

“Kita akan menetapkan SOP saprahan supaya memiliki standar. Misalnya jenis makanan yang wajib dihidangkan, makanan tambahan, pakaian pembawa saprahan dan sebagainya,” ujarnya.

Gubernur Kalbar, Sutarmidji di Festival Saprahan Hari Jadi Pontianak ke-247
Gubernur Kalbar, Sutarmidji saat hendak menyantap hidangan Saprahan yang disajikan peserta lomba Festival Saprahan peringatan Hari Jadi Pontianak ke-247 (Foto: Fat)

Ia menilai, dari tampilan dan rasa makanan yang disajikan oleh peserta sudah semakin baik. Sebagaimana diketahui, paceri nanas yang juga menjadi hidangan dalam saprahan, telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ke depan, pihaknya berencana mengusulkan sambal Haji Dolah sebagai warisan budaya tak benda menyusul paceri nanas.

“Ini merupakan salah satu upaya kita dalam melestarikan budaya khas Pontianak,” sebut Edi.

Meskipun budaya saprahan secara umum juga ada di daerah lain di wilayah Kalbar, namun Edi menegaskan, ada beberapa perbedaan dengan Saprahan Melayu Pontianak.

“Secara umum sebagian hampir sama tetapi ada beberapa perbedaan misalnya cara menghidangkannya, makanannya maupun penampilan pembawa saprahan,” tuturnya.

Edi berharap Festival Saprahan yang rutin digelar setiap tahun ini bisa memberikan edukasi kepada masyarakat terutama generasi muda sehingga mereka bisa ikut melestarikan budaya saprahan ini.

Sementara Gubernur Kalbar, Sutarmidji menuturkan, saprahan sudah terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kemendikbud. Selain saprahan, dirinya juga menyerahkan empat sertifikat budaya yang telah ditetapkan sebagai warisan tak benda. Diantaranya, paceri nanas, sayok keladi, kain tenun corak insang dan arakan pengantin.

“Kuliner ini menjadi satu pilihan wisata di satu daerah maka kita harus melindungi hasil karya, hasil cipta kita agar tidak diklaim oleh orang lain,” tegasnya.

Mantan Wali Kota Pontianak dua periode ini meminta saprahan dan arakan pengantin harus terus dilestarikan. Selain itu, budaya tersebut sudah semestinya memiliki standar yang baku tentang bagaimana tata cara melaksanakannya.

“Sehingga pakemnya atau SOP harus betul-betul disusun dengan baik. Terus dilestarikan bahkan bisa se-Kalbar, atau dilaksanakan tingkat nasional sehingga lombanya se-Indonesia,” katanya.

Plt Ketua TP PKK Kota Pontianak, Yanieta Arbiastuti menjelaskan, peserta Festival Saprahan ini berusia maksimal 40 tahun.

“Ini dimaksudkan supaya kaum muda lebih paham dan mengenal serta melestarikan nilai-nilai budaya makan saprahan Kota Pontianak,” jelasnya.

Untuk kriteria penilaian, kata dia, selain rasa makanan yang dihidangkan, kekompakkan, penampilan peserta dan lainnya juga menjadi aspek penilaian dewan juri. Dengan festival yang diikuti kader-kader PKK se-Kota Pontianak ini, dirinya berharap para peserta memahami dan mengetahui bagaimana penyajian saprahan yang sesuai dengan adat-istiadat Melayu Pontianak.

“Harapan kami generasi muda tetap bisa melestarikan budaya makan saprahan,” pungkasnya.

Dari 30 kelompok peserta yang berasal dari 29 kelurahan, Kelurahan Benua Melayu Laut berhasil merebut juara pertama. Disusul juara kedua dari Kelurahan Darat Sekip dan ketiga Kelurahan Saigon. Masing-masing pemenang mendapatkan hadiah berupa trophy dan uang tunai.

Makan Saprahan merupakan adat istiadat budaya Melayu. Berasal dari kata ‘Saprah’ yang artinya berhampar, yakni budaya makan bersama dengan cara duduk lesehan atau bersila di atas lantai secara berkelompok yang terdiri dari enam orang dalam satu kelompoknya.

Dalam makan Saprahan, semua hidangan makanan disusun secara teratur di atas kain saprah. Sedangkan peralatan dan perlengkapannya mencakup kain Saprahan, piring makan, kobokan beserta serbet, mangkok nasi, mangkok lauk pauk, sendok nasi dan lauk serta gelas minuman.

Untuk menu hidangan diantaranya, nasi putih atau nasi kebuli, semur daging, sayur dalca, sayur paceri nanas atau terong, selada, acar telur, sambal bawang dan sebagainya. Kemudian untuk minuman yang disajikan adalah air serbat berwarna merah. (jim)

Tinggalkan Komentar