Soal Harga TBS Dibawah Standar, Manajer PKS PT TBSM Pilih Menghindar

KalbarOnline, Sekadau – Anjloknya harga tandan buah segar (TBS) di Sekadau membuat petani ketar-ketir. Pasalnya, banyak perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan yang sudah memiliki Pabrik Kelapa Sawit (PKS), membeli TBS milik petani dengan mematok harga dibawah standar atau di bawah harga yang ditetapkan dalam Peraturan Gubernur nomor 86 tahun 2015.

Anjloknya harga komiditi andalan petani ini, tentu menbuat petani Sekadau kehilangan penghasilan tetap.

Para petani berharap harga TBS yang dibeli oleh perusahaan sesuai harga sah yakni untuk usia produksi 10 sampai 20 tahun sesuai ketetapan yakni Rp1.400 perkilo. Namun, pada kenyataan jauh panggang dari api, perusahaan yang harusnya menjadi orang tua angkat malah menindas petani dengan cara keji.

“Mereka hanya beli TBS petani dengan harga Rp720 perkilo, harga ini sangat tidak menguntungkan petani. Karena untuk biaya angkut dan panen saja sudah cukup besar,” kata Denis salah seorang petani kelapa sawit Sekadau kepada KalbarOnline, Senin (15/10/18).

Ia meminta agar pemerintah daerah mencari solusi yang baik, setidaknya pemerintah mau menberi teguran kepada perusahaan untuk menbeli TBS dengan harga yang ditetapkan.

Ketika para awak media hendak mengkonfirmasikan hal ini ke PT Titin Boyon Sawit Makmur (TBSM), sang manajer PKS perusahaan bersangkutan tak bersedia memberikan keterangan tanpa alasan yang jelas.

Para kuli tinta dimintanya menemui humas yakni Yusman dan Stepanus. Namun jawaban dari keduanya ini disimpulkan bahwa pihak TBSM sebenarnya enggan mengatakan yang sebenarnya mengenai harga TBS milik petani yang dibeli perusahaan.

“Mengenai harga TBS kami tidak tau berapa dibeli dari petani, sepertinya harga TBS untuk perusahaan dibawah PT. GGL atau Parna Agro Mas (PAM) yang berkedudukan di Kecamatan Belitang Hilir ditentukan oleh tim komersil yang dibentuk oleh perusahaan. Kalau mau, ke sana saja, tanya dengan tim komersil di sana. Soalnya kami tidak tau menau berapa harga TBS dibeli dari petani,” tuturnya.

Diemui terpisah Ketua KUD, Soleh mengatakan bahwa pihaknya merasa tak memiliki peran di KUD PT TBSM. Bahkan, lanjutnya, ada indikasi bahwa perusahaan ingin mematikan peran KUD. Sebab, KUD tidak pernah dilibatkan dalam berbagai hal di perusahaan.

“Beli buah saja KUD harus lewat CV. Prima Jasa, karena KUD dipaksa harus punya modal miliaran rupiah. Artinya, mereka sengaja membunuh peran KUD di perusahaan. Padahal, seharusnya perusahaan harus membina KUD agar bisa mandiri dan berkembang,” tukas Soleh. (S/Mus)

Tinggalkan Komentar