Tema ‘Benteng Mangrove Sang Penjaga’ Menjadi Ikon Bundaran Arteri Supadio

Tema ‘Benteng Mangrove Sang Penjaga’ Menjadi Ikon Bundaran Arteri Supadio
Rancangan penataan bundaran Arteri Supadio Kubu Raya hasil karya Alfriady Ivan Sahadula asal Palangkaraya (Foto: */ian)

KalbarOnline, Kubu Raya – Peserta asal Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Alfriady Ivan Sahadula, berhasil tampil sebagai pemenang Sayembara Perancangan Penataan Bundaran Arteri Supadio Kabupaten Kubu Raya.

Alfriady sukses menjadi jawara setelah meraih nilai tertinggi dari dewan juri. Ia mengalahkan 55 peserta lainnya dari seluruh Indonesia. Atas keberhasilannya, Alfriady berhak mendapatkan hadiah uang senilai Rp20 juta.

Suksesnya penyelenggaraan sayembara mendapat apresiasi dari Bupati Kubu Raya, Rusman Ali.

Rusman Ali yang menyaksikan langsung sesi presentasi dari lima besar nominator di Kantor Bupati Kubu Raya menyatakan pihaknya tidak terlibat sama sekali dalam proses penentuan pemenang, Senin (20/8/2018) kemarin.

“Tidak ada intervensi kepada panitia. Saya serahkan dan percayakan semua penilaian kepada dewan juri. Terima kasih kepada 56 peserta yang telah berkontribusi untuk Kabupaten Kubu Raya. Ini bukan masalah nilainya, melainkan kita mengharapkan bagaimana kreasi-kreasi anak-anak muda ini bisa ditampilkan sehingga nantinya bisa kita buat tugu agar menjadi kenangan dan sejarah,” tutur Rusman Ali usai pengumuman pemenang.

Menurut dia ditampilkannya hasil-hasil kreasi desain penataan Bundaran Arteri Supadio akan menjadi motivasi bagi para arsitek dalam mengembangkan bakat dan kariernya. Ia menegaskan sayembara bukan semata soal nilai hadiah, melainkan bagaimana sebuah kreasi dapat dihargai dan dilestarikan.

“Tahun ini baru ide. Untuk realisasinya tentu akan dikompromikan dulu dengan teman-teman di DPRD Kubu Raya. Tentu saya tidak bisa memutuskan sendiri. Ini akan dikomunikasikan dengan DPRD untuk selanjutnya bisa disepakati,” ujar Rusman Ali.

Rusman Ali mengatakan dalam tataran realisasi pembangunannya nanti, hasil karya pemenang pertama tidak serta merta digunakan. ia menerangkan desain yang kelak menjadi acuan pembangunan adalah kolaborasi dari lima besar karya finalis. Hal itu akan ditentukan melalui pembahasan bersama pihak-pihak terkait lainnya termasuk DPRD Kabupaten Kubu Raya.

“Tidak mesti juara satu yang kita buatkan tugu. Mungkin dari juara satu kita ambil misalnya unsur desain mangrovenya. Dan dari juara lainnya kita ambil aspek-aspek lainnya seperti benteng dan sebagainya. Jadi kita kolaborasi sehingga nanti juga kita akan rapat dengan teman-teman DPRD. Karena bundaran ini kan milik masyarakat,” ucap Rusman Ali.

Sementara itu, sang pemenang, Alfriady Ivan Sahadula, mengapresiasi Pemerintah Kabupaten Kubu Raya yang membuat sayembara terbuka untuk umum dengan skala nasional. Ia juga berterima kasih kepada dewan juri yang mempercayai konsep “Benteng Mangrove Sang Penjaga” yang ditawarkannya. Dosen Fakultas Teknik Jurusan Arsitektur Universitas Palangkaraya ini menyebut karyanya sebagai persembahan untuk Kabupaten Kubu Raya.

“Terima kasih atas kepercayaan dewan juri sehingga konsep kami tentang landmark atau ikon Kabupaten Kubu Raya berjudul ‘Benteng Mangrove Sang Penjaga’ boleh mencuri perhatian dewan juri dan Bupati Kubu Raya sehingga kami memperoleh hasil yang maksimal. Ini bentuk apresiasi kami untuk Kabupaten Kubu Raya. Kami persembahkan karya dan cipta kami hanya untuk Kubu Raya,” ucapnya.

Alfriady menuturkan konsep yang ditonjolkannya adalah benteng mangrove. Hal ini sejalan dengan mangrove yang merupakan ikon dari Kabupaten Kubu Raya. Alfriady yang telah beberapa kali menjuarai sayembara arsitektur tingkat regional dan nasional ini mengaku menyelesaikan desainnya selama tiga pekan.

“Jadi kita menampilkan sosok mangrove sebagai sang penjaga untuk semua sumber daya alam. Semua dimulai dari pelestarian hutan mangrove. Sehingga konsep kami untuk mengangkat mangrove sebagai ikon Kabupaten Kubu Raya boleh mendapatkan hasil yang maksimal,” sebutnya.

Alfriady menyebut pengalamannya memenangkan beberapa sayembara membuat ia mengetahui trik dalam mencuri perhatian dewan juri.

“Kami sering ikut sayembara. Jadi kami sudah punya modal bagaimana mencuri perhatian dewan juri. Bagaimana mengolah term of reference atau konsep itu bisa dipahami oleh dewan juri dan pemerintah daerah,” ungkapnya.

Sementara Pelaksana tugas Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Kubu Raya, Encep Mulyadi, menegaskan pihaknya akan melakukan kolaborasi desain hasil sayembara dalam menentukan desain utama pembangunan nantinya. Namun untuk kepentingan sebuah kompetisi sayembara, penetapan pemenang 1-5 tetap harus dilakukan.

“Karena ini memang ruang publik. Artinya Bupati tidak mau memutuskan sendiri. (Hasil) Ini untuk dibicarakan juga dengan DPRD Kabupaten Kubu Raya,” ujarnya.

Tampil sebagai pemenang kedua sayembara yakni I.G. Oka Sindu Pribadi (Jakarta); pemenang ketiga Esyar Putra Akbar (Pontianak); pemenang harapan pertama Zaki Wardana (Sambas); dan pemenang harapan kedua Eko Yulianto (Pontianak). (ian)

Tinggalkan Komentar