Menuju Kalimantan Barat Bebas Malaria

Ilustrasi Malaria (Foto: Ist)
Ilustrasi Malaria (Foto: Ist)

KalbarOnline, Pontianak – Penyakit Malaria salah satu penyakit tular vektor yang menyerang masyarakat Kalimantan Barat dan dapat mempengaruhi produktivitas kerja, bahkan menyebabkan mortalitas (kematian) manusia pada keadaan rentan khususnya bayi, balita dan ibu hamil.

Malaria merupakan penyakit yang disebabkan oleh infeksi plasmodium yang hidup dan berkembang biak di dalam sel darah manusia. Plasmodium penyebab malaria secara alami terdapat di dalam tubuh nyamuk Anopheles sp dan ditularkan melalui gigitan nyamuk betina.

Gejala penyakit malaria dapat berupa demam, berkeringat berlebih, mengigil, muntah-muntah, diare dan nyeri otot. Nyamuk Anopheles sp aktif mencari mangsa pada waktu senja, fajar dan ada yang aktif pada malam hari. Nyamuk Anopheles sp menghasilkan telur sejumlah 50 hingga 200 telur per ovoposisi dan dalam waktu 2 hingga 3 hari.

Morbiditas penyakit malaria pada suatu wilayah dapat ditentukan dengan indeks API (Annual Parasite Incidence) yaitu jumlah kasus positif malaria per 1000 penduduk dalam satu tahun. Berdasarkan data dan informasi profil kesehatan Indonesia yang diterbitkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, angka Annual Parasite Incidence (API) per 1.000 penduduk Kalimantan Barat pada tahun 2016 adalah 0,06, angka API tersebut sudah menurun dibandingkan tahun 2013 (0,23), 2014 (0,17) dan tahun 2015 (0,13).

Penurunan angka API hingga 0,06 pada tahun 2016 menunjukkan sinergitas dan prestasi Pemerintah dan Lembaga terkait yang patut diapresiasi oleh masyarakat. Namun untuk mencapai angka indeks API 0 diperlukan suatu metode yang baru dan juga optimalisasi metode yang sudah diterapkan oleh pemerintah yang melibatkan masyarakat secara umum.

Penggunaan insektisida sintetik (kimiawi) dengan metode fogging dan abate kimia untuk memberantas nyamuk merupakan cara tercepat dan instan untuk memberantas jentik dan nyamuk dewasa, namun metode tersebut dapat menyebabkan resistensi pada nyamuk sehingga menurunkan efikasi senyawa yang digunakan, selain itu juga dapat menyebabkan terakumulasinya senyawa kimia toksik pada masyarakat dan menyebabkan kematian pada Arhropoda kelas insecta lain sehingga menyebabkan ketidakseimbangan ekosistem.

Oleh karena itu diperlukan metode baru yang lebih aman dan ramah lingkungan namun efektif dalam memberantas nyamuk maupun jentik nyamuk, salah satu metode yang dapat digunakan adalah biolarvasida dengan menggunakan bahan-bahan alami seperti daun papaya (Carica papaya L.), daun jeruk nipis (Citrus aurantiifolia), daun sirih hijau (Piper betle L.) dan berbagai jenis bahan alami lain yang endemik dan mudah ditemukan di daerah Kalimantan Barat.

Selain biolarvasida, metode ramah lingkungan lain yang dapat dilakukan adalah pengendalian secara biologi dengan menempatkan ikan-ikan predator jentik nyamuk pada bak-bak penampungan air, jenis-jenis ikan yang dapat digunakan adalah ikan yang mudah diakses oleh masyarakat, beberapa diantaranya adalah ikan cupang, ikan guppy, ikan mas dan ikan molly.

Pegendalian penyakit Malaria tidak dapat hanya dilakukan oleh pemerintahan sektor kesehatan, kerja sama antar pihak (kolaborasi kemitraan) antar lembaga Pemerintahan seperti Dinas Sosial, Dinas Pendidikan, Dinas Kesesehatan serta Dinas Kehutanan dan Perkebunan sangat penting, kerjasama antar sektor Pemerintahan dapat dilakukan dengan penyediaan sumber data sebagai dasar pengambilan kebijakan baru yang terpadu (terintegrasi) sehingga dapat mencegah dan dan memberantas penyakit tular vektor Malaria.

Pencegahan penyakit Malaria tentu tidak hanya melibatkan sektor pemerintahan saja namun melibatkan berbagai sektor secara holistik bahkan melibatkan media, tokoh masyarakat dan masyarakat itu sendiri.

Media dan tokoh masyarakat dapat menjadi sektor penting dalam propaganda perilaku hidup bersih dan sehat seperti membuang sampah pada tempatnya, menguras air yang tergenang dan lain-lain. Dengan demikian harapan untuk Kalimantan Barat bebas Malaria dapat terwujud. (GF)

Tinggalkan Komentar