hikayat-soeharto
Ilustrasi : hikayat soeharto

Kalbaronline.com – Sejak molotov kali terakhir terlempar di Semanggi, 20 tahun silam, banyak eksponen gerakan mahasiswa 1998 yang kekinian menjadi elite politik di Senayan. Namun, gelombang pasang perubahan itu luput mengunjungi Nurman. Sejak dulu sampai sekarang, ia masih tetap mengais rezeki sebagai petugas taman di DPR.

Sambil memainkan sebatang rokok di tangannya, Nurman berusaha mengingat kembali peristiwa dua puluh tahun yang lalu, saat gedung MPR dan DPR dikepung puluhan ribu mahasiswa dari berbagai kampus di seluruh Indonesia, yang menuntut Soeharto lengser ke prabon.

Nurman masih tergolong muda pada bulan Mei 1998. Ia masih 24 tahun kala itu. Sebagai pemuda lajang, ia girang mendapat pekerjaan di bagian pertamanan gedung parlemen.

Saat gedung wakil rakyat itu diduduki mahasiswa, Nurman baru dua tahun dikontrak PT Yosano Jaya Pratama, salah satu perusahaan yang dibayar DPR untuk mengurusi taman.

“Dulu gajinya masih murah banget. Waktu demo-demo mahasiswa itu, gaji saya masih Rp 600 ribu. Waktu itu, uang segitu lumayan banyak sih, karena saya kan masih bujangan juga. Belum nikah,” kata Nurman di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, kepada Suara.com, Rabu (9/5/2018).

Nurman yang hanya lulusan Sekolah Menengah Pertama (SMP) saat itu, mengaku tidak tahu persis apa yang menjadi tuntutan mahasiswa.

Namun, ia menjadi saksi sejarah, saat kantor lembaga legislatif dikuasai mahasiswa.

Tukang Taman di Tengah Kebingungan

Pagi itu, antara tanggal 15 atau 16 Mei 1998, Nurman berangkat ke gedung legilastif dari indekosnya di kawasan Palmerah, Jakarta Barat.

Sama seperti hari-hari sebelumnya, Nurman berangkat mengenakan pakaian siap tempur melawan rumput-rumput liar di halaman kantor DPR.

Namun, ketika Nurman tiba di depan pintu gerbang kompleks parlemen, ia tak langsung dizinkan masuk.

Dia harus terlebih dulu diperiksa dan sedikit mendapat pertanyaan yang tak biasa ia dapatkan setiap kali hendak bekerja.

Ia mulai curiga sedang terjadi sesuatu di dalam komplek DPR. Terlebih saat matanya tertuju pada barisan aparat yang tengah berbaris.

“Di gerbang DPR bukan cuma satpam, ada polisi juga yang berjaga. Waktu mau masuk, saya ditanya, ‘Anda mau ke mana? Mau apa?’. Saya jelaskan, kalau saya ini petugas taman. Mau kerja. Baru saya boleh masuk,” ujar Nurman.

Sepanjang perjalanannya ke halaman depan DPR, matanya tak pernah lepas dari aparat yang mengenakan seragam kebesarannya masing-masing.

Pikirannya masih bertanya-tanya, apa gerangan yang terjadi di dalam komplek parlemen?

“Makin ke depan kok semakin banyak saja aparat. Ini ada apa? Yang namanya orang awam ya, saya kan bingung, kok tumben ini banyak polisi,” ungkapnya, mengenang.

Kebingungannya mulai terjawab setelah samar-samar telinganya menangkap suara teriakan dari halaman depan. Ia semakin penasaran dan langkahnya mulai dipercepat.

“Oo..rupanya ada mahasiswa demo,” ucapnya dalam hati.

Pagi itu, para demonstran belum terlalu banyak yang berhasil masuk ke kompleks parlemen. Namun di luar pintu gerbang depan, telah banyak mahasiswa yang menanti aba-aba dari teman-temannya yang berhasil masuk.

Pagar masih ditutup dan dijaga ketat oleh ribuan aparat dari satuan Brimob.

Semakin Mencekam

Sementara sejumlah perwakilan mahasiswa melakukan negosiasi dengan pimpinan DPR/MPR. Nurman, dan teman-temannya tetap melanjutkan pekerjaannya. Memotong rumput, menata pot bunga, serta perkerjaan-pekerjaan lain yang berkaitan dengan taman.

Di luar pagar, mahasiswa bertambah banyak. Mereka menunggu jawaban dari DPR, apakah kedatangan mereka diterima atau tidak. Berhari-hari negosiasi dilakukan, namun tak kunjung mendapat respons positif dari dewan.

“Di luar ini semakin banyak mahasiswa. Mereka orasi, bernyanyi. Kayaknya itu bukan cuma mahasiswa dari Jakarta doang, karena warna bajunya berbeda-beda kan. Saya dengerinlogatnya juga bukan orang Jakarta,” tuturnya.

“Saya perhatikan, kalau perwakilannya ini keluar menyampaikan informasi dari dalam, mereka semakin teriak-teriak. Mungkin belum diterima sama DPR. Soalnya mereka mulai goyang-goyangin pagar. Itu berapa hari mereka baru disuruh masuk semua,” Nurman menambahkan.

Gelombang massa yang semakin membludak membuat DPR dan aparat keamanan tak punya pilihan lain. Pintu pagar dibuka, dan segera setelahnya mahasiswa membanjiri halaman gedung parlemen. Secara bergantian mereka meneriakkan aspirasi.

Sementara Nurman dan teman-temannya kembali kebingungan, sebab taman yang mereka rawat selama ini akan menjadi salah satu tumbal reformasi.

“Pantang pulang sebelum diktator Soeharto jatuh”, kira-kira seperti itulah gambaran semangat mahasiswa kala itu. Mereka tak mau pulang sebelum DPR/MPR mengabulkan permintaan mereka.

Negosiasi demi negosiasi dilakukan mahasiswa bersama DPR, namun tak membuahkan hasil. Mereka mendesak DPR/MPR yang kala itu diketuai Harmoko dari Partai Golkar, mengeluarkan pernyataan bahwa Presiden Soeharto harus mundur dari jabatannya setelah 32 tahun berkuasa.

“Mereka menginap di sini karena permintaannya belum dipenuhi. Mereka mendirikan tenda untuk tempat tidur. Ada juga yang tidur di lantai di luar pintu kaca, karena tak bisa masuk ke dalam gedung. Aparat ini tetap siaga,” ujar Nurman.

Menurut Nurman, tak ada aksi perusakan yang dilakukan mahasiswa di dalam kompleks parlemen. Namun, taman yang menjadi tanggungjawabbnya menjadi korban. Tenda-tenda mahasiswa didirikan di atas taman.

“Sempat kami larang. Mas ini mau ngapainNggak boleh buka tenda di sini. Dilarang sama DPR. ‘ini rumah rakyat, kami juga rakyat. Kita sama di sini’. Wah ini kalau diladeni bisa-bisa kita yang kena amuk. Biarkan saja lah,” tutur Nurman sambil tersenyum.

Massa aksi semakin bertambah banyak. Bahkan ada yang sempat naik ke atas gedung Nusantara atau yang sering disebut gedung kura-kura. Sejumlah perwakilan terus melakukan audiensi dengan perwakilan DPR.

Menurut Nurman, tak ada aksi kekerasan yang dilakukan aparat terhadap mahasiswa kala itu. Mereka dibiarkan terus berorasi secara bergangtian di halaman. Namun, penjagaan tetap ketat. Bahkan, pasukan keamanan bertambah banyak.

“Aparat itu ada dari Marinir, dari Brimob. Barisan terakhir itu Kopassus yang mengamankan gedung supaya mahasiswa tidak masuk. Itu barisan terakhir. Semuanya menenteng senjata laras panjang. Kalau memaksa masuk itu pasti ditembaki. Itu pasti sudah peluru tajam. Bukan peluru karet lagi,” tutur Nurman.

Hari Terakhir Mahasiswa

Nurman mencatat, kurang lebih satu pekan mahasiswa mengepung gedung DPR/MPR. Kantor lembaga tinggi negara yang mestinya ketat dengan pengamanan, menjadi taman rekreasi sementara bagi mahasiswa yang dipenuhi rasa kemarahan terhadap Soeharto.

“Kalau malam, kawasan ini sudah kayak pasar. Kayak orang kemping. Ramai sekali,” ucap Nurman.

Tanggal 21 Mei 1998, Soeharto menyatakan berhenti sebagai presiden. Ia lantas menyerahkan tongkat kepemimpinan kepada sang wakil, Baharuddin Jusuf Habibie.

“Dengan memperhatikan ketentuan Pasal 8 UUD 1945, dan setelah dengan sungguh-sungguh memperhatikan pandangan Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat dan Pimpinan Fraksi-Fraksi yang ada di dalamnya, saya memutuskan untuk menyatakan berhenti dari jabatan saya sebagai Presiden Republik Indonesia, terhitung sejak saya bacakan pernyataan ini, pada hari ini, kamis 21 Mei 1998,” kata Soeharto, dalam pidatonya.

Menyaksikan berita pengunduran diri Soeharto dari layar televisi, puluhan ribu mahasiswa yang menduduki gedung DPR/MPR tampak gembira. Berbagai ekspresi diperlihatkan.

“Ada yang sujud syukur, berpelukan dengan temannya. Mereka pada menangis semua. Air mancur di depan itu, penuh oleh mahasiswa,” kata Nurman.

Setelah tuntutannya dipenuhi, mahasiswa satu persatu meninggalkan komplek parlemen. Nurman tidak tahu ke mana pulangnya mereka.

Namun yang pasti, kepulangan mahasiswa menyisakan pekerjaan berat buat Nurman dan teman-temannya.

“Semua ini jadi lautan sampah pokoknya. Taman itu bukan sekedar rusak, tapi hancur. Mereka pulang, ya kami langsung kerja lagi, dekorasi ulang,” ucap Nurman.

Tinggalkan Komentar