Debat Publik Tahap II, Ini Solusi Penanganan Karhutla ala Sutarmidji – Ria Norsan

Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar 2018 Nomor Urut Tiga, Sutarmidji dan Ria Norsan, Dalam Debat Publik Tahap II Paslon Pilgub Kalbar (Foto: Fat)
Pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar 2018 Nomor Urut Tiga, Sutarmidji dan Ria Norsan, Dalam Debat Publik Tahap II Paslon Pilgub Kalbar (Foto: Fat)

Sutarmidji: Lahan gambut harus ditanam tanaman keras

– Sebut sekat kanal yang diusulkan Pak Jokowi adalah solusi yang baik

KalbarOnline, Kubu Raya – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalimantan Barat, kembali menggelar Debat Publik Pilgub Kalbar 2018, yang berlangsung di Qubu Resort, Kubu Raya, Sabtu (5/5).

Debat Publik tahap II ini bertemakan ‘Pembangunan Ramah Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam’.

Sebagai pemandu jalannya debat, KPU Kalbar menunjuk, Rizka Andalina sebagai Moderator.

Memasuki sesi ketiga debat moderator Debat Publik Pilgub Kalbar tahap II, Rizka Andalina menyampaikan pertanyaan dari tim perumus untuk pasangan calon (paslon) Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar nomor urut 3 (tiga), Sutarmidji – Ria Norsan.

Kebakaran hutan dan lahan adalah salah satu bentuk bencana lingkungan yang selalu terjadi dan belum mampu dikendalikan dengan baik di Kalimantan Barat. Satu sisi, bencana ini berkaitan dengan lemahnya penegakan hukum lingkungan kepada para pembakar dan pemilik lahan yang terbakar. Disisi lain, bencana ini berkaitan dengan budaya dan kearifan lokal masyarakat dalam mengelolah tanah dan lahannya. Sementara di level nasional, bencana lingkungan ini adalah prioritas pemerintah untuk ditangani agar tidak berubah menjadi bencana kemanusiaan yang lebih merugikan.

Pertanyaannya, berdasarkan visi dan misi sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalbar, langkah dan upaya litigasi seperti apa yang akan dilakukan, sehingga persoalan kebakaran hutan dan lahan bisa ditangani dengan baik dan tidak terjadi lagi di Kalimantan Barat.

Menurut Sutarmidji, hampir semua kebakaran lahan terjadi di lahan gambut, bahkan kalau kemarau, jangankan dibakar, dilempar barang yang mudah panas saja bisa terbakar.

Solusi yang ditawarkan Midji – Norsan, lanjutnya, di lahan-lahan gambut, harus ditanam tanaman keras, seperti kopi, cokelat dan harus diteliti tanaman apa saja yang cocok di tanah gambut, sehingga tetap terjaga oleh masyarakat.

“Soal kearifan lokal misalnya ada peraturan yang membolehkan membakar 2 hektar, saya masih bisa menerima itu. Tapi harus dengan kontrol yang baik dan harus ada solusi jangka panjang untuk menyelesaikan masalah ini. Kalbar penyumbang kebakaran lahan terbesar se – Kalimantan, dari 4000 setengahnya dari Kalbar. Penanganannya harus serius dan tidak hanya parsial tapi berkelanjutan. Kalau di lahan gambut solusi Midji – Norsan, buat sumur bor sebanyak-banyaknya untuk membasahi lahan gambut. Sekat kanal yang diusulkan Pak Jokowi itu adalah solusi yang baik, tetapi kita tak pernah mau mencobanya, coba kita lakukan itu, Insha Allah tidak akan terjadi kebakaran hutan dan lahan lagi,” sambungnya.

Pada pertanyaan ini, terlihat jelas, bahwa Sutarmidji secara keseluruhan telah menjawab dengan lugas pertanyaan moderator terkait apa dan bagaimana langkah nyata menangani persoalan kebakaran hutan dan lahan dengan baik agar tidak terjadi lagi di Kalbar.

Dan penyampaian Sutarmidji terkait pertanyaan moderator, merupakan paling rasional. Bahkan Sutarmidji juga mengapresiasi usulan Presiden Joko Widodo terkait pembangunan sekat kanal. Dan ini menjadi bukti Sutarmidji sangat mengerti penyebab Kalbar tidak kunjung menjadi provinsi maju di Indonesia.

Tentu masyarakat Kalbar inginkan pemimpin yang memiliki track record yang jelas, program yang rasional, terukur dan dapat diwujudkan serta program pro rakyat. Sehingga hal inilah nantinya menjadi acuan masyarakat untuk memilih.

Kalimantan Barat saat ini membutuhkan pemimpin kolektif kolegial dan berkelas nasional, bukan hanya pemimpin identitas dan lokal, yang tidak memiliki program yang jelas serta hanya mengobral janji-janji. Kenapa demikian?, sebab Kalbar sudah jauh tertinggal oleh provinsi besar lainnya.

Selamat menimbang

Tinggalkan Komentar