PATRI: Transmigrasi Adalah Hidup Mati Bangsa Indonesia

Sekjen DPP PATRI, H Sunu Pramono Budi, Saat Memberikan Sambutannya, Usai Melantik Kepengurusan PATRI Kalbar Periode 2017 - 2022 (Foto: Fat)
Sekjen DPP PATRI, H Sunu Pramono Budi, Saat Memberikan Sambutannya, Usai Melantik Kepengurusan PATRI Kalbar Periode 2017 - 2022 (Foto: Fat)

KalbarOnline, Pontianak – Kepengurusan DPD Perhimpunan Anak Transmigran Republik Indonesia (PATRI) Kalimantan Barat periode 2017 – 2022 secara resmi dilantik, yang berlangsung di Gedung Pontianak Convention Centre, Kamis (8/2) malam.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua Umum PATRI, yang diwakili Sekjen DPP PATRI, H Sunu Pramono Budi yang sekaligus melantik kepengurusan PATRI Kalbar periode 2017 – 2022, Pj Gubernur Kalimantan Barat, yang diwakili oleh Sekretaris Kesbangpol Provinsi Kalbar, Agus Suparman, perwakilan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, Ombudsman Kalbar, Pengurus Cabang PATRI se-Kalbar, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh Agama, dan para tamu undangan lainnya.

Dalam sambutannya, H Sunu Pramono Budi mengungkapkan bahwa sebelum adanya PATRI, sebelumnya didaerah-daerah dari Aceh sampai Papua, sudah ada organisasi anak-anak transmigran yang sedang kuliah di ibu kota provinsi.

Misalnya di Kalbar, ada forum pemuda mahasiswa pelajar anak transmigran.

“Hampir semuanya pada waktu itu mereka dari kampungnya merengek kemana-mana untuk bisa sekolah. Sekarang ada yang sudah jadi doktor, profesor, dan sebagainya. Saya merasakan walaupun kami ini sampai sekarang belum ada yang kenal satu persatu, tetapi karena semangat membangun, semangat bersatu inilah kita dapat berkumpul disini,” ujarnya.

Dirinya juga mengungkapkan bahwa transmigrasi ini bukan hanya saat ini, bahkan awalnya berdasarkan sejarah, tahun 1905 itu sudah ada embrio transmigrasi yang disebut polonisasi di Lampung. Sampai saat masa penjajahan Jepang, setelah kemerdekaan hingga berkembang sampai sekarang.

PATRI ini, menurutnya, ibaratkan orang yang memikul kecerekan sambil membawa timah panas, kalau ada panci atau talang yang bocor, akan ditambal dengan PATRI, jadi, istilahnya ‘Soldier atau perekat’.

“Filosofi transmigrasi sama dengan PATRI, jadi mereka datang untuk melekatkan dan merekatkan persatuan nasional. Ini sejalan dengan pidato Bung Karno yang mengatakan bahwa transmigrasi adalah hidup mati bangsa Indonesia, kenapa begitu?. Karena bagaimana mempertahankan negara yang berpulau-pulau dibatasi selat-selat, beda agama, suku, bahasa, kalau tidak direkatkan dengan mensilaturahmikan, mempersatukan, mengenalkan, melalui antar grup ini,” tegasnya.

“Jika hanya mengandalkan negara dengan militer untuk menjaga perbatasan, berapa banyak logistik yang diperlukan untuk menjaganya. Maka dengan adanya transmigrasi, membuka daerah-daerah khususnya sepanjang perbatasan, maka persatuan itu bisa diciptakan,” sambungnya.

Karena itulah anggota PATRI bukan hanya transmigran dari Pulau Bali, Jawa, dan Lombok, tapi juga transmigran lokal.

“Memang transmigran tidak punya tambang emas, tambang batu bara, tapi PATRI punya tambang suara,” tegasnya lagi.

Untuk itu, ia berharap kehadiran PATRI bisa mempercepat pembangunan daerah dan PATRI Kalbar dapat bersinergi dengan lintas agama suku budaya, Pemda, dan tokoh untuk memperankan filosofinya sebagai perekat.

Dia juga berharap permasalahan yang terjadi terutama permasalahan lahan bisa diselesaikan secara adat sehingga persatuan benar-benar bisa terjalin, sehingga bisa bersama-sama dapat bersatu.

“Kami dari DPP memberi arahan bahwa PATRI bukan organisasi politik, bukan organisasi yang berafiliasi dengan politik tertentu tapi kami mendukung para tokoh atau calon yang secara konsisten mendukung pembangunan negara secara transmigrasi,” pungkasnya. (Fat)

Tinggalkan Komentar