Pengamat Nilai Konstelasi Pilkada KKR 2018 Akan Menjadi Pertarungan Sengit

Ilustrasi Pilkada (Foto: Ist)
Ilustrasi Pilkada (Foto: Ist)

Antara Petahanan dan Pasangan Muda – Jiwo

KalbarOnline, Kubu Raya – Pengamat Politik Untan, Dr Jumadi menilai dengan majunya pasangan Muda-Jiwo di Pilkada Kabupaten Kubu Raya (KKR) kali ini, akan mengulang kenangan Pilkada 2013.

“Saya fikir seakan mengulangi pertarungan Pilkada KKR di 2013 lalu. Tentu nantinya akan penuh dengan dinamika, cukup dinamis konstelasinya. Saya yakin Rusman Ali juga akan bisa maju,” ujarnya, seperti dilansir dari Pontianak.tribunnews.com.

Ditambah lagi dengan kehadiran tokoh lain semisal Wery Syahrial dan sebagainya.

“Saya yakin ini akan jadi pertarungan ketar antara petahana dan pasangan Muda – Jiwo, seperti di 2013 lalu. Dua kekuatan ini juga akan semakin mempertajam strategi, berangkat dari pengalaman Pilkada KKR lima tahun lalu,” terangnya.

Menurutnya, kekuatan keduanya cukup berimbang. Dengan munculnya tokoh-tokoh lain seperti Wery Syahrial dan sebagainya, tentu membuat konstelasinya kian menarik.

Muda-Jiwo, lanjutnya, memiliki basis yang besar, demikian pula Rusman Ali yang punya basis besar. Begitu juga dengan calon – calon lainnya.

“Apalagi kekalahan Muda di 2013 tidak signifikan dengan perolehan suara Rusman Ali. Terlebih sosok Jiwo yang mantan Ketua DPRD KKR, dan seorang politikus yang sangat dikenal,” tukasnya.

Menurutnya, ada banyak faktor pertimbangan yang membuat partai untuk memutuskan mengusung Muda-Jiwo. Termasuk Demokrat dan PKS yang kemungkinan keduanya sudah punya data sehingga yakin menjatuhkan pilihan ke pasangan ini.

“Selain kompetensi, elektabilitas dan popularitas ini memang jadi pertimbangan partai. Partai tersebut lah yang lebih tahu tentunya, tapi secara umum rasionalnya ya seperti itu,” tuturnya.

Selain itu, lanjutnya, yang ketiga yakni kemungkinan terkait dengan kesamaan pandangan antara bakal calon dan partai yang mengusungnya.

“Sebab tidak mungkin apa yang diusung bertentangan dengan apa yang diharapkan parpol tersebut. Kita tentu berharap kontestasi yang terjadi ini tidak menimbulkan persoalan di masyarakat. Karenanya, semua pihak perlu meminimalisir berbagai bentuk konflik,” imbuhnya.

Dirinya mengatakan bahwa masyarakat sudah semakin cerdas. Gagasan yang cemerlang dan cerdas yang bisa berikan keyakinan kepada masyarakat KKR bahwa akan ada perubahan yang signifikan kedepannya.

“Momentum Pilkada serentak juga akan bawa warna sendiri. Apalagi KKR yang jaraknya sangat berdekatan dengan Kota Pontianak, sehingga akan sangat berpengaruh di antara keduanya. Paling tidak menambah kesemarakan leat simbol-simbol mulai dari baliho dan sebagainya. Ditambah dengan momentum Pilkada provinsi, dan Pilkada kota Pontianak sendiri, pastinya nanti ada kemeriahan dan warna sendiri,” imbuhnya lagi.

“Kita tentu berharap kemeriahan dalam bentuk simbol ini juga diiringi dengan tingkat partisipasi yang rasional. Masyarakat menggunakan hak pilihnya. Masyarakat mesti lebih rasional dalam memilih. Jejak rekam calon, dan penilaian terhadap isu-isu yang ditawarkan, serta tidak mudah terprovokasi,” timpalnya.

Menurutnya inilah kesempatan menentukan pilihan, tidak apolitik, tidak golput.

“Mari pergunakan suara yang ada sebagai warna negara, sebab ini bukan sekedar hak, tapi juga kewajiban sebagai warga negara,” ajaknya. (Fai)

Tinggalkan Komentar